Makalah Indonesia

Makalah Indonesia

Selamat Datang di www.MakalahIndonesia.com yang penuh dengan kumpulan Makalah yang mudah-mudahan bisa membantu sahabat untuk bisa lebih memahami apa itu makalah, yang meliputi Makalah Kesehatan, Makalah Agama/Islam, Kata Pengantar Makalah, Makalah lingkungan bagi sahabat yang sedang membutuhkannya.

Makalah yang akan kami sajikan dalam website ini, mudah-mudahan juga bisa membanttu sahabat untuk menjadi pribadi yang  lebih baik lagi. Kami menyadari  saudara sering mengeluh dengan adanya tugas-tugas seperti makalah ini karena saya sendiri juga merasakannya dan maka dari itu, website ini kami sajikan untuk anda sebagai pembangkit semanagat belajar anda agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kami juga menyadari.Karena tentunya dengan semangat belajar yang kita miliki akan menjadikan kita lebih baik ke depannya.

Terdapat banyak kemungkinan untuk gagal kerana kejayaan hanya boleh dicapai dengan satu perkara iaitu USAHA.
Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan. Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya. Kamu dapat mengenal lebih banyak tentang diri seseorang itu dari adab dan pertanyaannya, bukan dari jawapan-jawapannya. ~ Voltaire Setiap orang dapat mencapai kejayaan dalam hal apa saja, asalkan ia sangat menyukai pekerjaan yang dilakukan. Lebih baik tidur dengan perut yang lapar daripada bangun tidur dengan banyak hutang.

Anda Bisa Menunda Untuk Berubah Karena Banyaknya Urusan. Tapi Hidup Tidak Pernah Menunda Urusannya Untuk Menunggu Anda Berubah. Sebuah rencana yang hebat dapat gagal hanya karena kurangnya kesabaran.

Berlayarlah Dan Temukan Muara Hikmah Di Pulau Samudera Cinta. Waspadalah Diri Dari Sesat Didalamnya. Semua Pelayaran Kita Tertuju Pada Satu Muara Cinta, Yaitu Mendapatkan Cinta Abadi Yang Esa.

*Jika anda merasa website ini berguna & bermanfaat, mari kita berbagi manfaat kepada teman, sahabat, saudara kita dengan membagikan artikel ini dengan mengklik gambar di bawah (share ke facebook / twitter)

Salam Untukmu Sahabat!!!!!!

Makalah Meningkatnya SDM

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.      Latar Belakang Penelitian

Memasuki ataupun seiring berjalannya era globalisasi, terjadi peningkatan kompetensi disemua lini kehidupan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan suatu keharusan yang dihadapi bangsa Indonesia untuk dapat tetap bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Era globalisasi yang melanda dunia saat ini sangat memerlukan SDM yang unggul dan handal. Bagi Indonesia, SDM unggul dan handal bukan saja bisa mampu bersaing dengan negar lain, tetapi juga dapat membawa negara ini keluar dari kritis ekonomi yang melilit. SDM yang berkualitas tercipta melalui mutu pendidikan yang diperoleh di sekolah. Dengan mutu pendidikan yang baik dan benar akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Ciri-ciri SDM yang berkualitas sendiri adalah mandiri, berwatak kerja keras, tekun belajar menghargai waktu, pantang menyerah, serta selalu proaktif dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi (Isjoni, 2007:2-3).

Perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang (Trianto, 2009:1-2).

Di Indonesia semakin kedepan, ilmu matematika sangat diprioritaskan dalam tuntutan zaman yang serba maju, matematika merupakan bidang studi yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, karena melalui perhitungan matematika yang akurat, segala persoalan dalam bidang IPTEK dapat dianalisis. Begitu juga dengan permasalahan sehari-hari seperti jual-beli, pengukuran, pengolaan data, semuanya memerlukan pendekatan matematika. Ini berarti bahwa matematika sangat diperlukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu memecahkan permasalahan. Oleh karena itu, tidak salah jika pada bangku sekolah, matematika menjadi salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan dari bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Namun, pada kenyataannya masih ada sebagian siswa yang merasa kesulitan dalam belajar matematika. Orientasi pendidikan kita mempunyai ciri cenderung memperlakukan siswa berstatus sebagai obyek; guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner, materi bersifat subject-oriented dan manajemen bersifat sentralis. Orientasi pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan nyata yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak sejalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian. Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya apabila pemecahan masalah seyogyanya dikembangkan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kemampuan pemecahan masalah itu dikembangkan dalam kegiatan belajar mengajar matematika. Ketrampilan memecahkan masalah harus dimiliki oleh siswa dan ketrampilan ini akan dimiliki siswa apabila guru mengajarkan dan menstimulus kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah dalam pembelajaran matematika. Menurut Bruner (dalam Trianto, 2009:7) bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Rendahnya kemampuan matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika.

Pembelajaran sejauh ini masih didominasi oleh guru, siswa kurang dilibatkan sehingga terkesan monoton dan timbul kejenuh pada siswa. Terlebih lagi guru dalam pembelajaran matematika di kelas tidak mengaitkan materi yang akan dibahas dengan masalah-masalah yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran matematika menjadi kurang bermakna (Suharta dalam ST.Aisyah, 2007:4). Dalam pembelajaran matematika selama ini, dunia nyata hanya dijadikan tempat untuk mengaplikasikan konsep. Padahal, peranan dunia nyata atau masalah-masalah realistik disini sangatlah penting, yaitu tidak hanya sebagai tempat mengaplikasi konsep tetapi sekaligus berperan sebagai sumber atau titik awal pembelajaran matematika sehingga dapat membantu siswa mengembangkan pengertian terhadap konsep matematika yang sedang dipelajari. Salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada dunia nyata atau pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah Pembelajaran Matematika Realistik.

Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) adalah suatu teori dalam pendidikan matematika yang dikembangkan pertama kali di negeri Belanda. Teori ini berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus di hubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai suatu sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal. Dunia riil adalah segala sesuatu di luar matematika. Ia bisa berupa mata pelajaran lain selain matematika atau bidang ilmu yang berbeda dengan matematika atau pun kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita. Dunia riil diperlukan untuk mengembangkan situasi kontekstual dalam menyusun materi kurikulum. Materi kurikulum yang berisi rangkaian soal-soal kontekstual akan membantu proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Teori PMR sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning, disingkat CTL). Namun, baik pendekatan konstruktivis maupun CTL mewakili teori belajar secara umum, PMR adalah suatu teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika.

Dari uraian di atas dan melihat erat kaitanya antara pemilihan model pembelajaran dengan keberhasilan/ketuntasan belajar ataupun kemampuan pemecahan masalah siswa maka peneliti berkeinginan mengadakan penelitian tentang: Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Pada Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Untuk Materi Pokok Bilangan Bulat Di SD Negeri Kombang 1 Kec.Talango Kab.Sumenep Tahun Pelajaran 2010 – 2011”.

Selengkapnya Download Disini… !!!

Makalah Kesehatan Part 3

BAB I

                                     PENDAHULUAN                                     

 

1.1        Latar Belakang

Rumah sakit merupakan suatu tempat pelayanan kesehatan dan sekaligus tempat perawatan bagi orang sakit.  Dari semua pasien yang dirawat di rumah sakit, setiap tahun 50% mendapat terapi intravena, hal ini membuat besarnya populasi yang beresiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan intravena (Schafer, 2000). Pengendalian infeksi di rumah sakit merupakan keharusan untuk melindungi pasien dari kejangkitan infeksi, dalam bentuk upaya pencegahan, surveilans dan pengobatan yang rasional (Djoko, 1999).

Sementara perkembangan terakhir dalam lingkungan pelayanan kesehatan telah merangsang minat dalam praktek pengendalian infeksi terbukti dengan keseriusan rumah sakit membentuk suatu tim pengendali infeksi nosokomial termasuk juga Instalasi Rawat Inap Puskesmas Ganding Sumenep, untuk mencegahan infeksi karena terapi intravena, puskesmas telah membuat berbagai strategi termasuk protap pemasangan infus, protap septik-aseptik (cuci tangan) maupun protap lainnya. Infeksi karena terapi intravena disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : faktor hospes, faktor alat dan larutan, serta faktor orang ke orang yaitu petugas perawatan kesehatan dan pasien (Schafer, 2000). Kenyataan data di lapangan menunjukkan, hanya 39,2% perawat melaksanakan protap teknik septik-aseptik (cuci tangan) sebelum melakukan perawatan pada pasien (Bambang, 1999).

Infeksi nosokomial pada pasien yang terpasang kanula intravena merupakan salah satu indikator adanya infeksi akibat kesalahan pemasangan maupun perawatan pasien dengan terapi intravena. Observasi pendahuluan yang dilakukan di Instalasi Rawat Inap Puskesmas Ganding Sumenep pada bulan Februari 2012, melalui wawancara dan observasi langsung dengan beberapa pelaksana tentang pelaksanaan pemasangan infus, didapatkan gambaran bahwa mereka berpendapat  pemasangan infus adalah hal yang sudah biasa dikerjakan, bahkan ketika ditanya masalah protap pemasangan infus mereka sedikit mengetahui isi dari protap tersebut dan ketika diobservasi saat melaksanakan pemasangan infus ternyata ada beberapa kriteria yang tidak dilaksanakan sesuai dengan isi protap, terutama masalah mencuci tangan (teknik septik-aseptik). Sementara dari laporan tahunan pengendalian infeksi nosokominal Rawat Inap Puskesmas Ganding Sumenep 2010, didapatkan angka infeksi nosokomial karena pemasangan kanula intravena yaitu 2,15% dari seluruh kejadian infeksi nosokomial yang ada. Disisi lain, pihak puskesmas sudah mempunyai protap-protap dalam menanggulangi terjadinya infeksi nosokomial tersebut, kenyataannya masih timbul kejadian infeksi nosokomial pada pasien yang terpasang kanula intravena. Sehingga muncul suatu pemikiran, apakah kejadian infeksi nosokomial tersebut disebabkan faktor tingkat kepatuhan perawat dalam pelaksanaan protap-protap yang ada atau karena faktor-faktor yang lain.

Kepatuhan merupakan bagian dari perilaku individu yang bersangkutan untuk mentaati atau mematuhi sesuatu, sehingga kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan dan perawatan infus tergantung dari prilaku individu perawat itu sendiri. Menurut Muchlas (1997), faktor yang mempengaruhi kepatuhan dapat dikategorikan menjadi faktor intrernal yaitu karakterisik perawat (umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, status perkawinan, kepribadian, sikap, kemampuan, persepsi dan motivasi) dan faktor eksternal (karakteristik organisasi, karakteristik kelompok, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik lingkungan).

Faktor tersebut diatas sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut mengenai sejauh mana tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan dan perawatan infus dihubungkan dengan faktor internal dan eksternal dari perawat itu sendiri. Untuk mendapatkan gambaran nyata dari fenomena diatas maka penulis ingin meneliti sejauh mana hubungan antara faktor-faktor tersebut diatas dengan tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan infus.

1.2        Identifikasi dan Batasan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :

1)      Bagaimanakah karakteristik perawat di Instalasi Rawat Inap Puskesmas Ganding Sumenep?

2)      Bagaimanakah tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan infus di Instalasi Rawat Inap Puskesmas Ganding?

3)      Apakah ada hubungan antara karakteristik perawat dengan tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan infus di Instalasi Rawat Inap Puskesmas Ganding Sumenep?

Selengkapnya Download Disini.!!!!!

Makalah Pesatnya Tekhnologi

BAB I

PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, terutama dalam teknologi percetakan maka semakin banyak informasi yang tersimpan di dalam buku. Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang harus dikuasai siswa. Dengan membaca siswa akan memperoleh berbagai informasi yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, membaca merupakan jendela dunia, siapa pun yang membuka jendela tersebut dapat melihat dan mengetahui segala sesuatu yang terjadi. Baik peristiwa yang terjadi pada masa lampau, sekarang, bahkan yang akan datang.

Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca. Oleh karena itu, sepantasnyalah siswa harus melakukannya atas dasar kebutuhan, bukan karena suatu paksaan. Jika siswa membaca atas dasar kebutuhan, maka ia akan mendapatkan segala informasi yang ia inginkan. Namun sebaliknya, jika siswa membaca atas dasar paksaan, maka informasi yang ia peroleh tidak akan maksimal.

Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang yang tertulis semata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca, agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Pembaca berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi lambang-lambang yang bermakna baginya.

Kegiatan membaca juga merupakan aktivitas berbahasa yang bersifat aktif reseptif. Dikatakan aktif, karena di dalam kegiatan membaca sesungguhnya terjadi interaksi antara pembaca dan penulisnya, dan dikatakan reseptif, karena si pembaca bertindak selaku penerima pesan dalam suatu korelasi komunikasi antara penulis dan pembaca yang bersifat langsung.

Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi yang dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui berbagai macam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Melalui membaca, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui dan dipahami sebelum dapat diaplikasikan.

Membaca merupakan satu dari empat kemampuan bahasa pokok, dan merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan1.

Adapun kemampuan bahasa pokok atau keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi, yaitu :

  1. Keterampilan menyimak/mendengarkan (Listening Skills)
  2. Keterampilan berbicara (Speaking Skills)
  3. Keterampilan membaca (Reading Skills)
  4. Keterampilan Menulis (Writing Skills)2

Empat keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lain, dan saling berkorelasi. Seorang bayi pada tahap awal, ia hanya dapat mendengar, dan menyimak apa yang di katakan orang di sekitarnya. Kemudian karena seringnya mendengar dan menyimak secara berangsur ia akan menirukan suara atau kata-kata yang didengarnya dengan belajar berbicara. Setelah memasuki usia sekolah, ia akan belajar membaca mulai dari mengenal huruf sampai merangkai huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata bahkan menjadi sebuah kalimat. Kemudian ia akan mulai belajar menulis huruf, kata, dan kalimat.

Keterampilan berbahasa berkorelasi dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. sehingga ada sebuah ungkapan, “bahasa seseorang mencerminkan pikirannya”. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya.

Kegiatan membaca perlu dibiasakan sejak dini, yakni mulai dari anak mengenal huruf. Jadikanlah kegiatan  membaca sebagai suatu kebutuhan dan menjadi hal yang menyenangkan  bagi siswa. Membaca dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja asalkan ada keinginan, semangat, dan motivasi. Jika hal ini terwujud, diharapkan membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan seperti sebuah slogan yang mengatakan “tiada hari tanpa membaca”.

Tentunya ini memerlukan ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih kebiasaan membaca agar kemampuan membaca, khususnya membaca pemahaman dapat dicapai. Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan3.

Keluhan tentang rendahnya kebiasaan membaca dan kemampuan membaca di tingkat Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA), tidak bisa dikatakan sebagai kelalaian guru pada sekolah yang bersangkutan. Namun hal ini harus dikembalikan lagi pada pembiasaan membaca ketika siswa masih kecil. Peranan orang tualah yang lebih dominan dalam membentuk kebiasaan membaca anak. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki kebiasaan membaca yang tinggi sedangkan orang tuanya tidak pernah memberikan contoh dan mengarahkan anaknya agar terbiasa membaca. Karena seorang anak akan lebih tertarik dan termotivasi melakukan sesuatu kalau disertai dengan pemberian contoh, bukan hanya sekedar teori atau memberi tahu saja. Ketika anak memasuki usia sekolah, barulah guru memiliki peran dalam mengembangkan minat baca yang kemudian dapat meningkatkan kebiasaan membaca siswa. Dengan demikian, orang tua dan guru sama-sama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan meningkatkan kebiasaan membaca anak.

Kenyataan menunjukkan soal-soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) sebagian besar menuntut pemahaman siswa dalam mencari dan menentukan pikiran pokok, kalimat utama, membaca grafik, alur/plot, amanat, setting, dan sebagainya. Tanpa kemampuan membaca pemahaman yang tinggi, mustahil siswa dapat menjawab soal-soal tersebut. Di sinilah peran penting membaca pemahaman untuk menentukan jawaban yang benar. Belum lagi dengan adanya standar nilai kelulusan, hal ini memicu guru bahasa Indonesia khususnya untuk dapat mencapai target nilai tersebut.

Inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian guna mengetahui bagaimana kebiasaan membaca dan pemahaman siswa di Sekolah Menengah Tingkat Atas. Penulis akan menuangkannya dalam skripsi ini dengan judul “Korelasi Antara Kebiasaan Membaca dengan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor”.


   1 DP Tampubolon. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien (Bandung : Angkasa 1987) hlm. 5

   2 Henry Guntur Tarigan. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung : Angkasa 1979) hlm. 1

   3 DP. Tampubolon, Ibid, hlm. 7

Selengkapnya Download Disini..!!!

Makalah Perkembanngan IP

BAB  I

PENDAHULUAN

 

  1. A.       Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi sangat pesat. Hal ini sekaligus akan mempengaruhi perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan kondisi baru sehingga terbentuklah pola prilaku, nilai-nilai dan norma-norma baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat.

Usaha untuk menuju nilai-nilai dan norma-norma baru disebut dengan istilah transformasi kebudayaan. Sekolah sebagai suatu lembaga yang ada di masyarakat dapat melaksanakan tugas mentransformasikan kebudayaan. Dengan demikian kebudayaan yang sudah ada pada masyarakat menjadi semakin kaya dengan dikembangkannya cipta, rasa dan karsa manusia. Pendidikan sekolah mempunyai andil yang besar dalam usaha mengembangkan individu sehingga menjadi anggota masyarakat yang diharapkan.

Pendidikan formal berfungsi untuk mengajarkan pengetahuan-pengetahuan umum dan pengetahuan yang besifat khusus dalam rangka menyiapkan anak untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu. Cepatnya perkembangan industri dalam kehidupan masyarakat yang memerlukan spesialisasi kemampuan dan keterampilan tertentu, menuntut sekolah untuk mengembangkan program yang berbeda-beda bagi sasaran didik agar dapat menyiapkan mereka dapat menduduki posisi atau jabatan yang berbeda-beda di masyarakat. Pendidikan vokasional dan kurikulum dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pada berbagai bidang kegiatan, merupakan ciri pokok lembaga pendidikan tingkat menengah dan tinggi. Dengan semakin canggihnya teknologi dan semakin menajamnya spesialisasi suatu jenis pekerjaan tertentu, sekolah diharapkan dapat menjadi kunci pembuka bagi seseorang untuk menduduki posisi tertentu pada berbagai jenis pekerjaan. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sekolah selalu ketinggalan dalam usaha ini, artinya sekolah belum mampu mengimbangi lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masyarakat.

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang Teori Bilangan, Aljabar, Analisis, Teori Peluang dan Matematika Diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Matematika perlu diberikan kepada siswa untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetisi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

Namun, hal-hal yang menjadi tujuan penyusunan kurikulum tersebut menjadi sulit tercapai bila dilihat dari hasil pencapaian belajar Ulangan Harian bahkan Ujian Akhir Semester (UAS) yang prestasinya belum memuaskan. Perihal tersebut tidak lepas dari stereotipe yang berkembang ditengah-tengah peserta didik bahwa matematika adalah pelajaran sulit yang menjadi momok dan selalu menakutkan. Maka tidak heran bila berdasarkan data yang ada pada Guru/Wali Kelas V SDN Pinggirpapas I dari Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) yang dilaksanakan berdasarkan data yang ada di sekolah menunjukkan bahwa < 40 % siswa yang dapat mencapai Ketuntasan Belajar.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, peneliti merefleksi, meresponnya sehingga timbul pertanyaan “Mengapa siswa menganggap bahwa pelajaran Matematika sulit ? Dalam setiap aspek seperti geometri dan pengukuran, bilangan maupun pengolahan data, termasuk di dalamnya materi pokok Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) . Mengapa rata-rata prestasi Matematika belum memuaskan?  Adakah yang salah dengan metode atau model mengajar yang digunakan?, dan sebagainya. Tentu ada banyak jawaban yang dapat dikemukakan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Salah satu jawabannya adalah Matematika harus disajikan dengan pendekatan atau metode pembelajaran yang relevan dan menarik. Hal ini akan berbanding lurus dengan minat belajar siswa yang sesuai dengan karakter siswa Sekolah Dasar beserta hasil belajarnya.

Dari realitas ini tampaknya seorang guru sudah waktunya melakukan serangkaian langkah untuk menjadikan pembelajaran di kelas cukup efektif dan menyenangkan. Hal ini didorong oleh sebuah tuntutan bahwa sekolah bukanlah penjara yang sangat membelenggu dan memasung kreativitas siswa.

Berdasarkan perspektif  inilah, dirasa perlu adanya terobosan baru yang inovatif dalam pembelajaran Matematika, khususnya materi pokok Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil       (KPK)  pada Siswa kelas V khususnya di SDN Pinggirpapas I Kecamatan Kota Sumenep, sehingga dapat mendukung terciptanya rasa senang dalam diri siswa untuk menerima pelajaran tersebut. Langkah yang dirasa efektif dan inovatif dalam hal ini adalah pembelajaran dengan model Jigsaw. Dari sini siswa diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran dan guru sebagai pembimbing dan fasilitator.

Berdasarkan latar belakangnya masalah di atas, maka dalam proposal penelitian tindakan kelas ini penulis memilih judul Penerapan  Model Pembelajaran  Kooperatif Jigsaw  Dalam Meningkatkan Prestasi Siswa Dengan Materi Pokok Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) Pada Siswa Kelas V  SDN Pinggipapas I Kalianget Tahun Pelajaran 2011/2012”

Selenngkapnya Download Disini..!!!

Mkalah Pengembangan Narasi

BAB I

PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang dan Masalah

Kemampuan berbahasa dalam KBK mencakup empat aspek penting, yaitu (1) keterampilan mendengar, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Kemampuan berbahasa ini berhubungan erat dalam usaha seseorang memperoleh kemampuan berbahasa yang baik. Berbagai usaha dilakukan untuk membina dan mengembangkan bahasa agar benar-benar memenuhi fungsinya.

Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah melalui program pendidikan di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Depdiknas (2003:6-7), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan

1)        Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan;

2)        Menghargai dan bangga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;

3)        Memahami bahasa indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;

4)        Menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;

5)        Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan

6)        Menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia indonesia (Sic).

Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan membaca  erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10). Menulis merupakan kegiatan mengekspresikan informasi yang diterima dari proses menyimak dan membaca. Jadi, semakin banyak seseorang menyimak atau membaca semakin banyak pula informasi yang diterimanya untuk diekspresikan secara tertulis. Kemudian, Crimmon (dalam Kurniawan 2006:122) mengatakan bahwa

menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan  salah satu keterampilan berbahasa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan penguasaan keterampilan menulis, diharapkan siswa dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya setelah menjalani proses pembelajaran dalam berbagai jenis tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Asumsinya, pengungkapan tersebut merupakan peresapan, pemahaman, dan tanggapan siswa terhadap berbagai hal yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, segala informasi, ilmu pengetahuan, dan berbagai kecakapan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran tidak akan sekedar menjadi hafalan yang mudah dilupakan sesaat setelah siswa menjalani tes.

Tujuan pembelajaran menulis belum dicapai secara maksimal oleh siswa. Menurut Trimantara (2005:1), penyebab terhadap tidak tercapainya tujuan pembelajaran menulis meliputi

1)        Rendahnya tingkat penguasaan kosa kata sebagai akibat rendahnya minat baca;

2)        Kurangnya penguasaan keterampilan mikrobahasa, seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah penulisan, diksi, penyusunan kalimat dengan struktur yang benar, sampai penyusunan paragraf;

3)        Kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa; serta

4)        Ketiadaan atau keterbatasan media pembelajaran menulis yang efektif.

Karena pentingnya keterampilan menulis, pengembangan pembelajaran menulis perlu ditingkatkan. Peningkatan pembelajaran menulis dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. Purwo (1990:166-171) mengatakan kegiatan pengembangan pembelajaran menulis dapat dilakukan dengan kegiatan mengembangkan logika, melatih daya imajinasi, merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai kalimat menjadi paragraf. Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan daya kreatif siswa dalam mengasah kecerdasan mareka.

Tes kemampuan menulis dapat divariasikan dalam berbagai bentuk tulisan. Tekniknya dapat disajikan data verbal, gambar, tabel, teks, peta, bagan. Dari data-data itu, siswa diminta untuk menulis sebuah karangan. Melalui kegiatan inilah kemampuan komunikatif siswa diukur secara terintegrasi (Mahmud, 2003:14).

Penggunaan teks wawancara sebagai alat bantu dalam mengembangkan karangan narasi akan membantu siswa untuk  menceritakan kembali sesuatu peristiwa atau kejadian secara kronologis. Kegiatan seperti ini menyuburkan kesempatan kreatif bagi  siswa dalam  menampilkan gagasan dan keahlian memilih kata serta merangkainya menjadi kalimat.

Penelitian ini mencoba mengukur kemampuan menulis siswa melaluiKemampuan  Mengembangkan Karangan Narasi Berdasarkan Teks Wawancara oleh Siswa Kelas I SMPN 1 Kecamatan Bluto”. Adapun tujuan utamanya adalah mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya melalui mengembangkan teks wawancara menjadi karangan narasi. Hal ini dilakukan karena selama ini siswa SMP masih dianggap belum mampu untuk menulis dengan alasan menulis itu cukup sulit untuk dikuasai  oleh mereka, padahal siswa SMP ditutut memenuhi kemampuan yang memadai dalam menulis.

Pemilihan  siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Bluto sebagai populasi penelitian didasari atas pertimbangan (1) sebagaimana siswa di SMP lainnya, siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Bluto telah mendapat pengajaran menulis sebagaimana tertera dalam kurikulum yang berlaku, (2) setelah menjalani pembelajaran, siswa dituntut memiliki kemampuan yang memadai dalam menulis, dan  (3) siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Bluto perlu mendapat pembinaan yang intensif dalam menulis.

1.2  Rumusan Masalah

Bedasarka latar belakang di atas, masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Bluto?

1.3  Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Bluto. Secara khusus penelitian ini  bertujuan mendeskripsikan kemampuan  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh mereka.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang mewajibkan penuturnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Penelitian ini juga menjadi pengetahuan, khususnya bagi peneliti, siswa, guru, dan masyarakat umum.

Selengkapnya Download Disini..!!!

Skripsi Novel

  1. 1.    Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Novel Remaja Melalui Metode Integratif pada Peserta Didik Kelas VIII SMP Nurul Jadid Batang-Batang Sumenep Tahun Pelajaran 2010-2011
  1. 2.    Pendahuluan
  2. a.    Latar Belakang Masalah

Berbicara tentang sastra sama halnya dengan menjalani kehidupan sosial. Perubahan ataupun pergeseran sosial akan mempengaruhi perkembangan sastra karena, perubahan terus terjadi sepanjang hidup manusia baik perubahan bentuk tubuh atau fisik, maupun dalam bidang sosial dan budaya sehingga perkembangan sosial ini bisa saja berdampak positif atau negatif terhadap proses kehidupan masyarakat terutama dalam dunia pendidikan yang merupakan cikal bakal perkembangan kehidupan sosial yang sempurna. Sebagai kontribusi terhadap perkembangan sosial adalah sangat penting untuk mengukur dan mengatur strategi pembelajaran sastra pada lembaga-lembaga pendidikan.

Pada dasarnya, menurut Anggiearanidipta (2008:10), metode dan media pembelajaran merupakan out put yang di susun dari strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran itu sendiri merupakan titik tolak yang menentukan segala upaya yang dilakukan dalam mengoptimalkan proses pembelajaran yang akan berlangsung. Sehingga seorang pendidik perlu metode untuk melangsungkan proses belajar mengajar sedangkan menurut  Susdiana berdasarkan Tipologi Belajar Siswa (2008:43), Metode tersebut merupakan langkah, cara, dan teknik untuk memberikan pemahaman dan penngertian secara berkesinambungan atau terpadu terhadap siswa dengan usaha yang maksimal sehingga menampakkan hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Dalam kenyataanya, seorang pendidik dan peserta didik merupakan dua objek yang harus kerja sama untuk memperoleh proses pembelajaran yang sempurna karena sekolah dalam prakteknya lebih memposisikan sebagai penjara yang dengan ketat membelenggu kreatifitas anak didik yang mengakibatkan anak didik kehilangan kreatifitas dan tidak mampu mengeksplorasi potensi yang ada pada dirinya.

Pada esensinya, manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan paling sempurna diantara makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki cipta rasa dan karsa, dimana hal-hal tersebutlah yang pastinya menjadi pegangan yang baik dalam menjalani kehidupan. Kita sebagai manusia biasa seyogyanyalah memanfaatkan apa yang kita punya untuk senantiasa menggali pengetahuan yang sebenarnya melimpah ada di sekitar kita, mengingat betapa pentingnya ilmu pengetahuan, ada hal yang perlu kita perhatikan sebagai dasar atau bekal dalam menuju era yang semakin maju ini. Diantaranya, mengenai kemampuan kita sebagai seorang guru/tenaga pendidik di sekolah tingkat dasar dan menengah adalah mentransformasi ilmu pengetahuan kepada anak didik secara maksimal. Yaitu, dengan meningkatkan kualitas porses pembelajaran melalui paradigma yang pada saat ini sudah ditawarkan baik oleh pemerintah ataupun oleh beberapa tenaga pengajar yang professional lainya.

Tujuan pengajaran yang dilaksanakan didalam kelas adalah menitik beratkan pada prilaku siswa atau perbuatan (Performance) sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada siswa yang dapat diamati serta menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar dan pengajar mengemban tugas utamanya adalah membimbing dan mendidik siswa untuk belajar serta mengembangkan potensi dirinya di dalam tugasnya, seorang guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memberi pengalaman dan pemahaman untuk membentuk kehidupan sebagai individu yang mampu hidup mandiri ditengah-tengah masyarakat modern

Paradigma pendekatan Integratif dalam sebuah pembelajaran sastra telah menjadi ajang diskusi dalam sejumlah seminar dan lokakarya yang diselenggarakan berkali-kali oleh baik tingkat Universitas maupun fakultas  (Supriatna, 2008: 99), akan tetapi, pada kenyataanya semua itu hanyalah sebuah fenomena yang tak tentu karena, masih banyak proses pembelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah baik tingkat dasar maupun menengah masih konfensional artinya, masih mamakai paradigma lama yang seharusnya pada zaman sekarang ini sudah tidak layak lagi dijadikan sebuah strategi pembelajaran atau transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang setiap harinya sudah dihadapkan pada sebuah kenyataan yang fleksibel, oleh karena itu sangat pantas jika sebuah proses pembelajaran diadakan inovasi dan motivasi demi masa depan pendidikan yang lebih berkualitas dan mampu bersaing seiring kemajuan zaman.

Salah satu bukti kemajuan zaman telah ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kecanggihan sistem informasi. Manusia kini dapat mengakses berita tentang apapun dari seluruh belahan dunia dengan sangat cepat, bahkan sesaat setelah kejadian tersebut diberitakan oleh media  massa. Akses yang bebas tentang apapun semakin tidak terbatas dengan adanya media-media seperti televisi, koran, internet, handphone, dan segala jenis media yang lain dan turunan-turunannya. Tidak terbatas pada pihak manapun, asal memiliki kemampuan untuk mengakses melalui media-media tersebut, maka setiap orang dapat dengan bebas mendapatkan informasi yang dikehendaki. Hal ini mengakibatkan dunia seolah-olah menjadi sebuah tempat yang sangat sempit dan tidak bersekat, karena tidak ada lagi batas-batas yang jelas yang dapat memisahkan dan membedakan sesuatu yang diterima oleh satu orang dengan orang yang lain.

Oleh karena itu, sebuah proses pembelajaran di sekolah-sekolah patut dipertanyakan dan direnungi tentang kegagalan dan keberhasilan peserta didik pada saat sekarang ini, maka selain dari adanya perubahan sistem/metode yang erat hubungannya dengan Proses Belajar Mengajar (PBM), juga diperlukan adanya upaya meningkatkan dan memotivasi guru dan siswa yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pemberian motivasi dan peningkatan mutu pendidikan dalam hal ini adalah proses pembelajaran sastra (novel remaja) dengan paradigma integratif merupakan faktor yang terpenting untuk menjaga emosional, imaji dan semangat siswa di dalam memahami, mengalami atau mengonsumsi pelajaran sastra  (novel remaja).

Novel remaja dalah sebuah karya sastra yang terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk menyangkut cara menyatakan sesuatu; isi menyangkut apa yang (ingin) dinyatakan. Novel remaja yang baik acap berakhir titik dengan sebuah pesan (www.spocikopi.com., 2009), sehingga hal tersebut sangat sulit untuk dicerna dan difahami secara utuh oleh siswa dan itu disadari bahwa minat terhadap sastra novel remaja di kalangan pelajar masih terhitung sangat rendah. Hal ini sesungguhnya merupakan keprihatinan bagi guru bahasa dan sastra Indonesia, dan para guru pada umumnya. Apalagi dengan kemajuan teknologi komonikasi yang begitu cepat, para siswa di luar sekolah lebih banyak dicekoki dengan informasi dan hiburan audio visual. Aktivitas menyimak pasif lebih mendominasi kegiatan berbahasa. Para siswa lebih senang menonton sinetron daripada membaca Novel atau novel remaja. (Sutoro, 2005: 21) Membaca menjadi kegiatan yang kurang menarik untuk dilakukan inilah fenomena yang dihadapi guru bahasa Indonesia.

Meskipun sebagian besar waktu luang di rumah banyak digunakan untuk menonton televisi, tapi tetap optimis masih ada sisa waktu di sekolah yang tidak digunakan untuk melihat televisi. Artinya sebagai guru bahasa Indonesia masih mempunyai banyak peluang mengajak siswa untuk memahami sastra dengan maksimal yaitu dengan menggunakan metode integratif yakni menyatukan beberapa aspek (interbidang studi) menjadi satu proses dalam sebuah pembalajaran.

Mengapa SMP Nurul Jadid menjadi pilihan untuk diteliti? Karena di bidang pendidikan khususnya bidang studi sastra belum bisa mewarnai di sekolah ini. Maka dengan penelitian ini, peneliti akan semakin yakin bahwa dengan pendekatan integratif akan mengetahui keunggulan dan kelemahan metode dalam membantu proses pengoptimalan pemahaman sastra di lingkungan SMP Nurul Jadid Batang Batang Sumenep. Apalagi di kelas VIII untuk jam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berada di jam terakhir. Disaat siswa lelah mendapat segudang suapan materi sejak pagi, akhirnya proses pembelajaran tidak optimal. Maka dengan menggunakan pendekatan integratif siswa dapat terangsang kembali dari apa yang ia tahu, dari apa yang ia dengar dan dari apa yang ia rasakan. Sehingga siswa akan berani memunculkan ide dari potensi yang ia miliki.

Berangkat dari hal tersebut, maka dalam penelitian ini peneliti akan meneliti tentang Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Novel Remaja Melalui Metode Integratif pada Peserta Didik Kelas VIII  SMP Nurul Jadid Batang-batang Sumenep Tahun Pelajaran 2010-2011.

Selengkapnya Download Disini …!!!!

Skripsi Matahari Di Atas Gilli

ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM

NOVEL “MATAHARI DI ATAS GILLI”

KARYA LINTANG SUGIANTO

 

  1. A.     Latar Belakang
  1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra selain menjadi media pendidikan, kontrol sosial, pemberontakan, juga berfungsi sebagai penyampaian pesan kepada masyarakat atas segala polemik atau persoalan yang ada sehingga kita dapat mempunyai gambaran atas apa yang harus kita lakukan disaat harus menghadapi persoalan yang sama dengan apa yang terjadi  dalam sebuah karya sastra (novel) misalnya. Meskipun bersifat fiktif-imajener, diakui atau tidak karya sastra sangatlah berpengaruh dalam kehidupan kita. Dilihat dari sejarahnya, mulai dari angkatan pujangga baru smpai sekarang telah banyak mengalami perubhan-perubahan baik dalam cara penyampaiannya, tema yang diangkat, penggunaan diksi, dan sebagainya ataupun perubahan-perubahan  yang disebabkan oleh karya itu sendiri dalam masyarakat.

Karya sastra merupakan sebuah ciptaan, kreasi dari seorang pengarang yang dapat menciptakan dunia baru bagi perkembangan sastra umumnya. Sementara dalam dinamika kesusastraan yang berbentuk prosa fiksi merupakan salah satu sastra yang bersifat imajinatif. Sebagai karya yang bersifat imajinatif tentunya memiliki keterkaitan dengan berbagai masalah realitas sosial, baik sebagi visualisasi, internalisasi ruang, dan berbagai gagasan yang melingkupinya. Karena sastra bersumber dari masyarakat maka tidaklah salah jika ada pendapat yang mengatakan  bahwa sastra dan tata nilai masyarakat merupakan dua fenomena yang saling melengkapi. Dalam arti sastra tidak akan  pernah ada tanpa masyarakat. Demikian juga melalui sastra manusia  akan dapat mengetahui  nilai tertentu yang terdapat dalam masyarakat.

Perbedaan antara fakta dan Fiksi tampaknya tidak akan membawa pemahaman kita lebih jauh, setidaknya karena perbedaannya sendiri seringkali dipertanyakan. Sepertihalnya di ingris akhir abad keenam belas dan awal abad ketujubelas, kata novel’ telah digunakan  untuk kejadian nyata maupun fiktif, sedangkan  laporan berita bahkan tidak dianggap sebagai factual. Yakni antara Novel dan laporan berita tidaklah jelas faktual maupun fiktif. Hal ini merupakn perbedaan yang barangkali cukup tajam  yang kita buat antara kedua katagori ini  tidaklah berlaku. Barangkali  dalam hal ini memerlukan pendekatan yang berbeda. Mungkin sastra dapat didefinisikan bukan berdasarkan kefiktifan atau keimajinatifannya,  melainkan karena sastra menggunakan bahasa dengan cara yang unik.

Meskipun banyak yang mendefinisikan karya sastra sebagai tulisan  imajinatif “dalam artian fiksi” tiulisan secara harfiah tidsah harus benar, tetapi pada akhirnya pernyatan tersebut tidak cukup untuk dijadikan batasan, karena perbedaan antara ‘fakta’  dan ‘fiksi’ seringkali masih dipertanyakan, dan sebenarnya sastra tidak akan pernah terlepas dari realitas.

Sejalan dengan apa yang dikemukakan (Eagleton, 2006:14) bahwa dalam kondisi semacam ini, sastra adalah jenis tulisan yang dianggap tinggi cukup membantu, maka novel juga merupakan salah satu bentuk dari karya sastra. Dalam membaca novel, yang memuat dimensi pelajaran dan pengalaman kualitas dari identifikasi sosial yang hal tersebut tidaklah jauh dalam memandang pola kehidupan baik di masa lalu maupun di masa yang akan datang. novel juga banyak memberikan nuansa estetika dan semacam pencerahan bagi kita ketika membacanya. Selain itu, novel juga dapat melahirkan sebuah nilai identifikasi diri untuk mengapresiasi tipologi dari proyeksi kultural yang berkembang.

Saya sebagai seorang peneliti tertarik untuk meneliti Novel “Matahari Diatas Gilli”  karena novel ini merupakan salah satu novel  Karya: Lintang Sugianto, yang banyak menonjolkan konflik Sosial, yang merupakan suatu realita atau kenyataan yang dihadapi manusia. sementara eksistensialisme adalah salah satu filsafat antropologi  yang menekankan eksistensi manusia yang bebas dan bertanggung jawab.

  1. B.     Permasalahan
  1. Ruang Lingkup Masalah

Dinamika kesusastraan yang secara ekstrinsik dikontruksi oleh pemikiran atau sebuah ideologi yang berkembang dalam dua ranah lingkungan yang sangat berbeda, yang dalam hal ini novel Analisis Konflik Sosial  Dalam Novel “Matahari Diatas Gilli” Karya: Lintang Sugianto  merupakan sebuah realita kehidupan yang dibangun diatas intrumentalia refleksi  dalam sebuah peradaban yang dibangun atas dasar pencaraian jati diri atau hakekat kemanusiaannya yang sempurna

Sementara ruang lingkup masalah dalam penelitian ini adalah Analisis Konflik Sosial  Dalam Novel “Matahari Diatas Gilli” Karya: Lintang Sugianto Adapun analisis konflik Sosial  dalam novel tersebut merupakan nilai yang mencakup tentang nilai keagamaan  maupun nilai ketuhanan yang teraktualisasikan dalam kehidupan  bermasyarakat.

Unsur Analisis Konflik Sosial   dalam novel tersebut ingin menganalisis melalui tokoh dalam hal ini berkaitan erat dengan keberadaan manusia dan pemahaman terhadap hakikat manusia yang sebenarnya. Sementara memahami filsafat lewat sastra dirasa lebih mudah dicerna daripada memahami filsafat ilmu murni.

  1. 1.      Pembatasan Masalah

Pada penelitian kali ini saya tidak akan membahas secara keseluruhan  yang terdapat dalam novel Analisis Konflik Sosial  Dalam Novel “Matahari Diatas Gilli” Karya: Lintang Sugianto, tetapi akan lebih difokuskan pada konflik Sosial  yang terjadi pada setiap tokoh yang merupakan klimaks (puncak cerita) pada cerita dalam novel tersebut

  1. 2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka beberapa masalah yang di teliti dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah konflik Sosial  yang terjadi dalam Novel “Matahari Diatas Gilli”  Karya: Lintang Sugianto ?
  2. Bagaimanakah dampak konflik Sosial  dalam Novel “Matahari Diatas Gilli”  Karya: Lintang Sugianto ?
  1. 3.            Tujuan Penelitan
    1. 1.      Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mendeskripsikan analisis konflik Sosial  pada setiap tokoh yang terdapat dalam Novel “Matahari Diatas Gilli”  Karya: Lintang Sugianto

Selengkapnya Download Disini..!!!

Makalah Perkerasan

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang masalah

Perkerasan merupakan sistem yang memiliki jangka waktu. Dimana seringkali kerasakan terjadi sebelum umur perencanaan perkerasan itu. Kerusakan yang terjadi pada perkerasan sangatlah beragam. Salah satunya disebabkan akibat kerusakan lapisan tanah dasar.

Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan pada perkerasan seperti:

•    Peningkatan beban dan pengulangan beban berlebihan

•    Naiknya air akibat kapilariias.

•    Pengolahan sistem bahan yang kurang baik dan kualitas bahan yang kurang baik.

•    Suhu udara dan curah hujan yang umumnya. tinggi di Indonesia.

•    Kondisi tanah dasar yang tidak stabil.

•    Proses pemadatan yang kurang baik.

Kekuatan dan keawetan konstraksi perkerasan jalan sangat ditentukan oleh daya dukung tanah dasar yang ada. Perubahan bentuk tanah dasar akibat pembebanan, mengembang dan menyusutnya tanah dasar akibat perubahan kadar air sehingga volume tanah dasar berubah akan membawa dampak pada lapisan perkerasan yang ada diatasnya.

Renolith merupakan bahan aditif yang bekerja dengan semen untuk meningkatkan kepadatan tanah dasar, mengurangi kembang susut tanah dasar, membuat lapisan tanah dasar menjadi kedap air dan melindungi semen. Kekuatan tanah dasar juga mengalami peningkatan pada saat pemakaian Renoiith. Hal ini menyebabkan kemungkinan perubahan bentuk lapisan tanah dasar men|adi kecil karena kepadatan yang dicapai oleh tanah dasar adalah kepadatan optimum. Seiain itu, Renoiith juga menghasilkan lapisan kedap air yang dapat mencegah perubahan bentuk dan kembang susut tanah dasar.

1.2  Rumusan Masalah

a.    Sejauh mana bahan aditif Renolith marapu meningkatkan kekuatan tanah?

b.    Sejauh mana manfaat aditif Renolith dapat menghasilkan lapisan perkerasan yang kedap air?

c.    Pengaruh bahan aditif Renolith terhadap elastisitas pada perkerasan jalan?

1.3  Tujuan Penelitian

a.    Mengetahui  manfaat bahan aditif Renolith  pada  Sirtu dan  tanah asli  di Surabaya yang memiliki nilai CBR kurang dari 6%.

b.    Mengetahui Koefisien Permeabilitas yang dihasilkan oleh campuran Renolith.

1.4 Ruang Lingkup Pembahasan

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam peneliliati dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:

a.    Sirtu yang digunakan berasal dari daerah Pandaan Pasuruan.

b.    Semen yang digunakan adalah Portland Cement P.T. Semen Gresik.

c.    Bahan  adifif Renolifh  yang  dibuat  oleh  Renolit  Advanced  Technology Thailand.

d.    Percobaan dilakukan di laboratoriuin lanah dan laboratorium perkerasan jalan Universitas Negeri Surabaya

1.5. Metode Penelitian

a.   Sfudi literatur.

b.   Siudi laboratorium. antara lain :

•    Proctor Test (y dry maximum)

•     Unconfined Compression Strength Test (UCS)

•    Permeability Test.

•     California Bearing Ratio Test (CBR)

c.    Membuatanalisahasiltest.

d.    Menarik kesimpulan dari analisa yang telah dilakukan.

Selengkapnya Download Disini..!!!!!

Makalah Rukun Karya

ASPEK KELUCUAN DALAM HUMOR MADURA

PADA ALBUM VCD KETOPRAK RUKUN KARYA

DENGAN KEMBANG SEKAR MULYO

1.1        Latar belakang

Dalam mastyarakat majemuk, yang tetdiri dari sejumlah masyarakat suku bangsa, terdapat kelompok-kelompok yang mampunya kebudayaan, adat, seni.

Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk terdapat 3 golongan yang masing-masing mempunyai corak, sendiri-sendiri. Ke-3 golongan ini satu sama lain saling berbeda tetapi saling berkaitan merupakan suatu kesatuan yang amanya kebudayaan Indonesia. Ke-3 Golongan tersebut adalah : (1) kebudayaan suku bangsa (yang labih dikenal secara umum di Indonesia dengan nama kebudayaan daerah) (2) Kebudayaan umum local, dan (3) kebudayaan nasional (setya, 2001: 04).

Di daerah jawa timur terdapat beberapa kesenian, salah satunya Ludruk, tari remo, banyak lainnya. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari jawa timur . udruk merupakan drama oleh sebuah grup, kesenian yang digelarkan  di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai music dialog/ menolong dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penonton tertawa , jombang, malang, Madura, madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakn pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda , suoir angkutan umum dll)

Ludruk/humor juga sama dipentaskan dan sama-sama memilikikarakteristik yang lucu. Humor sebuah cerita pendek yang menceritakan suatu kejadian yang lucu dengan harapan dapat membuat pembacanya tertawa.

Kelucuan sebuah humor disebabkan oleh beberapa hal misalnya: kelakuan para pelaku, kejadian yang umum akan tetapi diplesetkan, kritik terhadapat keadaan, kebodohan, kesalahan pengertian benturan antara budaya dan hal-hal lain.

Penelitian ini mengambil judul “ Aspek kelucuan dalam humor Madura pada album VCD ketoprak rukun karya dengan judul kembang sekar mulyo “ yang bernuasa humor untuk bahan penelitian bahan penelitian proposal.

1.2              Rumusan Masalah

1.2.1        Rumusan umum

Sesuai dengan batasan masalah diatas dapat ditemukan rumusan umum , yaitu bagaimana karakteristik keluguan dalam humor Madura pada album ketoprak Rukun karya dengan judul krmbang seat mulyo pada ketoprak rukun karya .

1.2.2        Rumusan masalah

Masalah khusus pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah teknik humor dalam album VCD Kembang Sekar Mulyo pada ketoprak Rukun Karya ?
  2. Bagaimanakah aspek kelucuan dalam album VCD kembang Sekar Mulyo pada ketoprak Rukun Karya ?

1.3              Tujuan Penelitian

1.3.1        Tujuan Umum

Aspek  kelucuan dalam humor Madura pada album   VCD ketoprak rukun karya dengan judul Kembang Sekar Mulyo secara umum bertujuan untuk mengetahui karakteristik humor Madura pada album VCD Ketoprak rukun karya dengan judul Kembang Sekar Mulyo.

1.3.2        Tujuan Khusus

                        Aspek kelucuan dalam humor Madura pada album VCD Ketoprak rukun karya dengan judul Kembang Sekar Mulyo secara khusus bertujuan untuk :

  1. Mengetahui teknik humor pada aspek kelucuan dalam humor Madura pada album VCD Ketoprak rukun karya dengan judul Kembang Sekar Mulyo.
  2. Untuk mengetahui aspek kelucuan dalam humor Madura pada album VCD Ketoprak rukun karya dengan judul Kembang Sekar Mulyo.

1.4              Manfaat penelitian

1.4.1        Manfaat Teoritis

Aspek kelucuan dalam humor Madura pada album VCD Ketoprak rukun karya dengan judul Kembang Sekar Mulyo dapat memberikan gambaran teoritis tantang humor serta memperkaya konsep-konsep yang berkaitan dengan humor dan kelucuannya, khususnya ditinjau dari aspek kelucuan.

1.4.2        Manfaat Praktis

  1. Dapat dijadikan bahan pelengkap (referensi), khususnya dalam bidang sastra foklor pada pengajaran bahasa.
  2. Berguna untuk penikmat sastra guna memberikan dan menyikapi perkembangan dalam lingkunagn social, sebab sastra mengandung pesan-pesan yang ingin di sampaikan pada pembacanya.

 

Selengkapnya Download Disini…!!!!

makalah pengembangan membaca

  1. Judul

Menumbuhkembangkan Tingkat Intelektual Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Semester VI B Melalui Kegiatan Menulis.

  1. Latar Belakang

Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan bangsa (Yanto, 2007). Dalam rangka mencerdaskan bangsa hendakkan kita semua membuat sebuah inovasi-inovasi guna mencapai cita-cita yang diharapkan dimasa depan. Sebab pendidikan merupakan inventasi jangka panjang dengan produk-produk manusia-manusia masa depan yang handal, kritis dan bertanggung jawab (Idaman, 2007). Dalam hal ini mahasiswa yang menjadi sorotan. Mahasiswa adalah sisik pemerhati bangsa dan penerus bangsa sekaligus menjadi tonggak bagi masa depan bangsa dimasa depan. Namun sungguh ironis jika mahasiswa tidak bias mengembangkan kemampuan intelektual melalui kegiatan menulis. Mengingat kegiatan menulis merupakan cara menuangkan pikiran (Sapardi Djoko Darmono dalam Kurnia, 2007) dan seharusnya menjadi cirri khas tersendiri bagi mahasiswa.

Pada dasarnya kegiatan menulis adalah keterampilan bukan bakat. Keterampilan itu membutuhkan latihan, keseriusan dan motivasi serta alokasi waktu yang memadai (www.blogger.com). Ketika penulis melakukan wawancara kepada teman seperjuangan di STKIP PGRI Semester VI B secara mayoritas mereka mengatakan “ Saya tidak bias mengerjakan tugas menulis (baca : makalah) ” namun berbeda dengan kelompok minoritas yang telah terlatih dibidang tulis-menulis. Maka penulis mempunyai inisiatif sekaligus termotivasi untuk mencari apa yang menyebabkan mahasiswa dalam kategori mayoritas ini tidak bias mengerjakan tugas menulis.

Salah satu kendalanya adalah pergeseran budaya Indonesia yang dulunya berbudaya mendongeng ataupun bercerita bergeser menjadi budaya konsumtif. Buktinya adalah masyarakat terlalu banyak “dicekoki” oleh siaran film atau sinetron yang hanya ditonton saja tanpa harus berpikir aktif. Dari dampak inilah kegiatan mendongeng tidak pernah lagi dijamah terlebih lagi kegiatan membaca. Untuk membangkitkan kembali kegiatan membaca, anak usia dini harus terlatih untuk membaca dan orang tua juga memiliki peranan dalam hal memupuk bakt anak agar berkembang secara optimal (Lestari, 2007). Sebab pada masa perkembangan anak mencakup tiga domain yaitu proses biologis, kognitif dan psikososial (Rosdianawati, 2001) yang saling terjalin dan berpengaruh sehingga membentuk pribadi yang unik.

Kemudian hal lain yang menjadi penyebab kenapa kita tidak bias menulis adalah kurangnya referensi yang telah kit abaca. Padahal membaca merupakan sarana utama menuju keterampilan menulis (Kurnia, 2007). Membaca menempati posisi yang sangat fatal dalam dunia tulis-menulis. Salah satu contohnya adalah Bapak D. Zawawi Imron beliau adalah sastrawan putra daerah Sumenep-Madura yang menjadi sastrawan nusantara, meskipun beliau tidak menyelesaikan pendidikan formalnya tetapi beliau dapat menjadi sumber inspirasi bagi para mahasiswa maupun dosen yang sedang meneliti tugas analogi puisinya.

Dari bukti autentik tersebut di atas, kita harus dapat menyikapi dengan bijak dan terinspirasi, termotivasi secara inovasi pada diri kita untuk membaca menunjukkan tingginya peradaban manusia. Sebab semakin tinggi minat baca akan semakin memudahkan kita dalam menulis (Dendi, ST. 2007) dan tidak hanya berhenti membaca saja, implementasi dari membaca adalah menulis, karena dengan menulis kita dapat merekam hasil bacaan kita sehingga ilmu yang telah kit abaca tidak akan hilang. Menurut Virginia Woolf (Kurnia, 2007) cara terbaik membaca adalah dengan menulis.

Jadi kegiatan menulis merupakan satu kesatuan yang saling terikat dan terkait tak bias dipisahkan. Menulis juga merupakan perjuangan, yaituperjuangan untuk memperoleh ilmu dan sekaligus menyampaikan ilmu yang kita pelajari dan kuasai. Selain dari it, manfaat dari menulis antara lain pertama, sarana menemukan sesuatu. Kedua, memunculkan idebaru. Ketiga, sarana mengungkapkan diri melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep. Keempat, membantu menyerap dan memproses informasi. Kelima, melatih berpikir aktif serta mengembangkan pemahaman dan kemampuan menggunakan bahasa (www.sfedureseacch.org).

2. Rumusan Masalah

Kegiatan Menulis yang berimplikasi pada Tingkat Intelektual Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep semester VI B Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Selengkapnya Download Disini..!!!!!